Sedikit akan saya bahas mengenai asal mula penulisan Al-Quran bagi kalian yang Kepo Ilmu..
A.
TRADISI HAFALAN AL-QURAN
Di
dalam kamus ‘ulum Al-Quran dikenal istilah Jam’u
Al-Quran. Istilah ini menurut Dr. Shubhiy
Shahih dalam mabahits fi ‘ulum
Al-Quran mempunyai dua pengertian, yaitu Al-hifzhu
(menghafal) dan Al-kitabah yakni
Al-Quran pada benda-benda yang bisa ditulis. Uraian singkat berikut ini
akan mengulas kedua jenis jam’u Al-Quran tersebut.
Tau gak sih, Ada
tiga tahap penting yang dilalui Rosulullah ketika menerima wahyu Al-Quran.
Pertama, tahap penghimpunan Al-Quran dibenak Rosulullah Saw,. Yakni
penghapalan. Kedua, tahap pembacaan ayat-ayat Al-Quran, artinya Jibril
membacakan ayat-ayat yang baru saja disampaikan dihadapan Rosulullah Saw.
Ketiga, tahap penjelasan atau tahap Bayan, pada tahap yang terakhir ini,
Rosulullah Saw. Diberitahukan pengertian atau maksud ayat yang beliau terima.
Al-Quran
tidak hanya untuk Rosulullah saja, tetapi untuk semua orang terutama orang
yang bertakwa, langkah Rosulullah Saw.
Selanjutnya adalah Tabligh, yakni menyampaikan Al-Quran kepada para sahabat
tanpa kecuali.
Rosulullah
Saw. Bersabda “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan
mengajarkannya.”
Kalimat
Rosulullah ini ternyata menjadi semacam alat pemicu yang mampu menggerakan kaum
muslimin untuk berlomba-lomba menguasai Al-Quran sebanyak mungkin tidak sedikit
dianatara sahabat Rosullulah yang menguasai keseluruhan ayat Al-Quran dalam
tempo yang relatif singkat. Menurut Al-Qurthubiy, di peristiwa bi’r Ma’unah
saja, terdapat sekitar tujuh puluh orang Hafiz yang gugur. Bila jumlah hafiz
yang gugur saja sebanyak itu, dapat dibayangkan berapa banyak hafiz Al-Quran
yang dimililki kaum muslimin pada waktu itu. Karna memang para sahabat
berlomba-lomba menguasai Al-Quran baik bcaan maupun tulisan, mereka tak ingin
kalau sampai ada ayat Al-Quran yang tidak mereka kuasai, misalnya Abdullah bin
Mas’ud, Zaid bin Tsabit, ubai bin Ka’ab, selain emapat sahabat Rosulullah yang
sempat menduduki kursi Khalifah, atau yang biasa disebut “Khulafaur Rasyidin”
yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali.
Imam
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam dalam kitabnya,
Al-Qiraat, menyebut sejumlah sahabat yang menguasai Al-Quran sepenuhnya,
mereka adalah sebagai berikut.
1.
Dari kalangan Muhajirin : Abu Bakar
Umar bin Al-Khathab
Usman bin Affan
Ali bin Abi Thalib
Thalhah
Sa’d
Ibnu Mas’ud
Khudzaifah
Salim
Abu Hurairah
Abdullah bin Sa’ib
Ibnu Zubair
Abdullah bin Umar
Abdullah bin Abbas
Amr bin Al-‘ash
Muawiyyah bin Abi Sufyan
2.
Dari kalangan Anshar: Ubai bin Ka’ab
Abu Darda
Zaid bin Tsabit
Anas bin Malik
Ubaidillah bin Al-Shamit
Mu’az alias Abu Hulaimah
Mujamma bin Jariah
Fadhalah bin Ubaid
Maslamah bin Makhallad
Minat mempelajari Al-Quran dikalangan sahabat Rasulullah
Saw. Demikian tingginya hal ini terlihat pada Hadits Riwayat Al-Bukhari dan
Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-ash. Rosulullah menurut Riwayat itu,
bersabda “Baca (khatamkanlah) sekali dalam setiap bulan” rupanya bagi Abdullah
yang mempunyai semangat membara untuk menuasai Al-Quran dengan baik merasa satu
bulan sekali Khatam baginya tidak cukup. Masih terlalu sedikit. Abdullah
kemudian mengatakan pada Nabi Muhammad., “Sesungguhnya aku mendapati diriku
merasa kuat.” Melihat kesanggupan Rosulullah Abdullah, Rosulullah Saw berpesan
kepadanya “bacalah (tamatkanlah) dalam
dua puluh malam” dua puluh malam pun masih terlalu lama untuk menamatkan
Al-Quran yang sangat ia minati itu, Abdullah lagi-lagi menyatakan energinya
masih ia rasakan lebih bila hanya menamatkan Al-Quran sekali setiap dua puluh
malam, sekali lagi, Rosulullah Saw. Berpesan : “bacalah (tamatkanlah) dalam
setiap tujuh hari sekali, jangan lebih dari itu”
Generasi sahabat menurut Syech Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad lebih banyak mengandalkan
hafalan dari pada tulisan, artinya mereka lebih ska menghafalkannya, hal ini
llebih dimengerti mengingat pada zaman itu tidak banyakorang yang mampu baca
tulis, pebggunaan alat tulis menulis masih jauh dari popular. Selain itu dengan
menghafal ayat Al-Quran yang mereka hafal segere mereka pakai untuk bacaan
Sholat, meskipun demikian, tidak berarti penulisan Al-Quran belum dikenal
generasi mereka.
B.
PENULISAN AL-QURAN PADA ZAMAN ROSULULLAH
Pada masa
ini Rasulullah mengangkat beberapa orang untuk dijadikan sebagai jurutulis,
diantaranya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit dan lain-lain. Tugas
mereka adalah merekam dalam bentuk tulisan semua wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Alat yang digunakan masih sangat sederhana.
Para sahabat
menulis Al-Qur’an pada :
a. Ujung pelepah kurma (al-usb)
b. Batu-batu tipis (al lakhaf)
c. Kulit binatang/ pohon (ar-riqa’)
d. Pangkal pelepah kurma yang tebal (al-karanif)
e. Tulang belikat yang telah kering (al-aktaf)
f. Kayu tempat duduk pada unta (al-aktab)
g. Tulang rusuk binatang (al-adhla’)
Faktor yang mendorong penulisan
Al-Qur’an pada masa nabi adalah
1) Mem-back up hafalan yang telah dilakukan nabi dan para sahabatnya.
2) Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna. Bertolak dari
hafalan para sahabat saja tidak cukup karena terkadang mereka lupa atau
sebagian dari mereka ada yang sudah wafat. Adapun tulisan tetap terpelihara
walaupun tidak ditulis pada satu tempat.
Untuk menghindari kerancuan akibat bercampuraduknya ayat-ayat Al-Qur’an
dengan yang lainnya, misalnya hadits Rasulullah, maka beliau tidak membenarkan
seorang sahabat manulis apa pun selain
Al-Qur’an. Kegiatan itu didasarkan pada sebuah hadist Nabi sebagaimana
diriwayatkan oleh Muslim, “Janganlah kamu menulis sesuatu yan berasal
dariku, kecuali Al-Qur’an. Barang siapa telah menulis dariku selain Al-Qur’an,
hendaklah ia menghapusnya.” Larangan ini dipahami oleh Dr. Adnan Muhammad
Zarzur sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk menjamin nilai akurasi
Al-Qur’an. Setiap kali turun ayat Al-Quran.
Rasulullah memanggil jurutulis wahyu.
Kemudian Rasulullah berpesan, agar meletakkan ayat-ayat yang turun itu disurat
yang beliau sebutkan.
Cara yang
telah dilakukan Rasulullah dalam rangka memperhebat dan memperlancar penulisan Al-Qur’an kepada
kaum muslimin untuk memberantas buta huruf antara lain sebagai berikut :
1) Memberikan
penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang telah pandai
menulis dan membaca.
2) Rasulullah
menggunakan tenaga para tawanan perang dalam usaha pemberantasan buta huruf.
Pada perang Badr al-Kubra, kaum muslimin memperoleh kemenangan. Orang-orang
musyrik banyak ditawan, dan diantara para tawanan ini banyak pula yang tidak
dapat menebus dirinya sendiri itu, tetapi pandai tulis baca, maka Rasulullah
memberikan suatu ketentuan, bahwa tawanan-tawanan tersebut dapat dibebaskan
kembali dengan syarat masing-masing telah berhasil mengajar sampai pandai tulis
baca 10 orang muslim.
Dengan
adanya berbagai macam usaha tersebut, bertambah besarlah keinginan masyarakat
muslimin untuk meperlajari tulis baca, dan semakin banyak orang yang bebas dari
buta huruf. Hal ini menyebabkan bertambah banyak pula jumlah kaum muslimin yang
dapat ikut serta memelihara Al-Qur’an dengan
tulisan-tulisan disamping hafalan-hafalan mereka.
Pengumpulan Al-Qur’an dimasa nabi ini dinamakan : a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.
Weeeh.. bisaan..
BalasHapus